Demokrasi itu apa?
.
Tiba-tiba Itu terlintas begitu saja pada pemikiran penulis. Tepat ketika penulis selesai membaca sebaris tulisan dengan font Times new roman berukuran tujuh puluh dua di blok hitam menyala. “HARGA BBM NAIK”. Seketika itu juga koran memang tidak lagi serasa seperti blender yang biasanya mengaduk-aduk perasaan penulis setiap kali membacanya. Melainkan sudah seperti kompor. Demokrasi macam apa yang berlaku di negeri ini? Penulis mencoba menggali dalam dan lebih dalam lagi. Berbincang kesana kemari. Rasanya perlu sebuah perenungan yang panjang untuk mendapatkan sebuah kulkas pencerahan yang mendinginkan dan menyegarkan.
.
Berikut analisis kajian sistem demokrasi ala kadarnya, yang coba penulis sentuh dan rasakan, selama penulis hidup di negeri ini. Semoga bisa di jadikan kritik epistemologis dalam perkembangan makna demokrasi, yang kerap selalu dijadikan kata manis pelembut hati rakyat, dan hampir berhasil menghipnotis ratusan juta orang awam. Tidak jarang malah membodohkan.
.
Demokrasi Zen ala Pemerintah
.
Agar kajian teoritis serampangan yang penulis kemukakan ini bisa lebih dalam dimengerti. Maka penulis hanya akan membahas sistem pemerintahan demokrasi dalam ranah lingkup peneluran kebijakan pemerintah. Karena di zaman edan ini seringnya telur-telur kebijakan ini menetas menghasilkan ular-ular yang siap memangsa dan menelan bulat-bulat segala aspek kehidupan rakyatnya. Rakyat untuk memenuhi kebutuhan primer saja sudah megap-megap, bagaimana bisa memikirkan masa depan untuk anaknya sekolah, bangun rumah, bayar angkutan, beli buku, beli pakaian baru, pergi berlibur yang ke semuanya semakin mahal menjadi momok dalam mimpi-mimpi mereka di setiap malam.
.
Salah satu dari telur kebijakan pemerintah yang edan adalah kenaikan harga BBM. Seringnya rakyat tidak diikutsertakan dalam proses demokrasi di ranah itu. Membuat rakyat hanya bisa diam menerima begitu saja. Karena memang mereka tidak pernah tahu, atau memang sengaja tidak diberitahu. Alasan yang kerap kali di lontarkan oleh pemerintah adalah sebuah alasan yang sarat dengan gaya bahasa singkat, padat, klise, tidak jelas dengan intonasi suara yang agak diberatkan dan ditambah sedikit tambalan wajah yang memelas bijak bermata teduh . Sudah miriplah dengan seorang guru zen yang berbicara kepada murid-muridnya. Cuma bedanya bukan pencerahan yang didapat, melainkan pengeruhan dan pem-buthek-an
.
Demokrasi Pop ala Pemerintah
.
Demokrasi sebenarnya berasal dari demos dan kratein. Tapi demokrasi versi pemerintah ini berasal dari demo dan kratein. Demo artinya aksi, atau pertunjukan, lebih enak diartikan pamer. Krasi, asal mulanya dari kratein, artinya pemerintah. Bisa juga yang memerintah. Penulis lebih suka mengartikannya secara keseluruhan, yang memerintah suka pamer. Ada yang pamer “mendamaikan’, ada yang pamer “senyuman”, ada yang pamer “analisis ekonominya paling jitu dan memakmurkan”, ada yang pamer “simpati” kepada korban bencana alam. Ada yang pamer “suka anak-anak” .
.
Wuihh… tentu saja kata pop identik dengan media. Dan hampir di semua media akan mempopulerkannya. Mana ada orang suka pamer keburukan, yang pasti yang baik-baik dan indah-indah yang dipamerkan. Padahal kenyataannya,semakin banyak orang saling bunuh bukannya damai. Semakin banyak orang suka mengumpat bukannya tersenyum manis. Semakin banyak pengangguran bukannya kemakmuran. Paling parah lagi bukannya simpati dibalas dengan terima kasih, melainkan umpatan dan kutukan. Saking capeknya mengumpat. Akhirnya diam lagi, tidak tahu apa masih memendam dendam ketidakadilan atau tidak.
.
Itulah cara sikap yang selalu diam, untuk melawan orang yang suka pamer. Orang suka pamer identik dengan gelap mata. Tidak sadar apa akibat kelakuan pamernya. Mungkin karena saking keseringan kepalanya mendongak ke atas bak raja. Keseleo gak bisa lagi menunduk. Ada orang didepannya gak digubris, asal terobos tabrak sana, tabrak sini. Ada tanaman diinjak, ada kucing ditendang, ada selokan kecemplung. Menyebarkan aroma bau busuk kesana kemari. Terus saja jalan kayak gitu, sampai akhirnya ketemu jurang. Jatuh plung, matanya ketancep batang-batang pohon, kaki patah tinggal satu, tangannya retak, kepala remuk, otakpun pecah, dan mulutnya memble.
‘
Tapi masih bisa dioperasi kok, kan orang kaya. Cuman sayang banyak yang tidak sembuh total. Agak sedikit idiot dan gaya bicaranya suka mencla mencle, sikut sana sikut sini, senyumannya tidak semanis dahulu, mlencang-mlencong licik mirip iblis. Orang yang melihat pasti jengkel dan ingin memukulinya sampai babak belur. Kasihan. Hidupnya pasti mengenaskan dan menyedihkan. Karena ternyata kemaluannya ikut diamputasi, makanya nggak punya malu. Naasnya bila keterusan sampai menjadi seorang yang memerintah. Jadi apa ini orang-orang yang diperintah? Walau itu sudah terjadi, jangan sampailah terulang kembali.
‘
Demokrasi Rimba ala Pemilu
.
Pemilu adalah simbol dari demokrasi rimba setiap kali diadakan. Diadopsi dari sistem voting (pengambilan suara terbanyak), oleh karena itu penulis mengibaratkan, pada saat pemilu, Negara ini mirip hutan rimba, agak sedikit lebih mirip kebun binatang. Karena masih dibayang-bayangi uang. Yang sarat dengan kepentingan modal asing. Politik adu domba, adu kekuatan, adu popularitas dijadikan senjata utama untuk meraih kekuasaan. Selalu dan selalu saja rakyat dijadikan objek pembodohan politik, dengan diiringi janji-janji, panji-panji, iming-iming kemakmuran keadilan dan kesejahteraan yang jauh dari realita.
.
Tidak heran bila segala macam ideologi, baik itu sosialis, agamais, liberalis, komunis, dan is-is lainnya bisa campur aduk tumplek blek. Namun yang perlu digaris bawahi, dan dipertanyakan, sejauh mana segala macam ideologi itu mampu membawa perubahan yang cukup signifikan di masyarakat. Ketidak seimbangan dominasi kapitalis yang mengental di negeri ini, semakin akut menggerogoti nilai-nilai kehidupan, baik itu, spiritual, ekonomi, politik,sosial, budaya. Musyawarah mencapai mufakat sebagai salah satu sendi demokrasi untuk memilih seorang pemimpin hanyalah tinggal eforia belaka.
.
Rimba yang mirip hutan belantara ini mengikuti hukum alam, siapa yang kuat dia yang menang. Pemimpin yang dihasilkan oleh sistem pemilu sarat dengan kekuasaan politis, yang berdasarkan pada kadar seseorang dari figur ketokohan. Baik itu pebisnis sukses, politikus handal, akademisi tulen, pemuka agama, penyanyi terkenal, bintang film terganteng. Di sinilah makna demokrasi yang diharapkan dipertanyakan.
.
Demokrasi yang terkenal dengan panji-panji “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”-nya , kini dibatasi ruang geraknya hanya sebatas “untuk rakyat”. Tanpa di ketahui dari siapa? Dan oleh siapa?. Memang lupa atau idiot para petinggi kita yang sedang duduk di kursi pemerintahan itu. Mereka hanya diberi amanah untuk memerintah. Bukannya memerintah secara seenak kemaluannya sendiri. Apakah tidak sebaiknya mereka berkonsultasi dengan pemimpin mereka terlebih dahulu(baca: rakyat), sebelum sepihak memutuskan kebijakan seperti apa yang mesti dijalankan. Yah apa boleh buat, memang rakyat sebagai pemimpin, memang harus mengingatkan? Bila memang demokrasi di negeri ini sudah sukup matang.
.
Tidak masalah siapa saja yang menjadi pemerintah. Asalkan rakyat yang memimpin. Itulah demokrasi dalam hati kecil penulis. Tentu saja perlu proses yang panjang dalam mematangkan demokrasi di negeri ini. Rakyat perlu diajak bicara, perlu dimintai pendapat karena merekalah yang memimpin. Bila tidak diajak bicara, dan dimintai pendapat, pasti meraka akan demo turun ke jalan. Bakar sanalah, bakar sinilah, umpat sanalah, umpat sinilah, kekacauan ada dimana-mana. Tentu saja tragedi ‘98,’74,‘65, yang sarat dengan genosida masal tak ingin terjadi lagi, bukan?
.
Tiap-tiap manusia yang hidup di negeri ini, baik itu tua, muda , kaya, miskin, berpendidikan atau tidak, perlu dimintai pendapatnya. Karena masing-masing dari mereka adalah pemimpin dan khalifah di bumi ini. Untuk masalah teknisnya, harus saya mulai dari sebuah pertanyaan sederhana, yang terkadang sangat kita sepelekan dan hiraukan. Pertanyaan krusial yang sudah lama kita lupakan akan hal yang sedemikian penting ini. Bahwa sebenarnya demokrasi haruslah dimulai dari klas masyarakat terbawah. Lingkup organisasi masyarakat terbawah, yang tentu saja bukan partai. namun organisasi ini sejatinya adalah parlemen rakyat yang sesungguhnya. Bahkan mampu membubarkan baik itu DPR dan MPR sekaligus. Tentu saja menurunkan seorang presiden itu sih urusan gampang.
.
Saya tegang juga mau menuliskan pertanyaan yang sederhana ini. karena memang sebenarnya jawaban masalah demokrasi ini juga sangat sederhana, asal ada niatan dan keberanian untuk mengubah sistem demokrasi yang telah lama kian bobrok ini. Saya tegang karena dimulai dari pertanyaan inilah, sistem demokrasi di negara-negara belahan dunia manapun, tidak sanggup menandinginya. Saya tegang karena dimulai dari pertanyaan inilah, sistem komune paris, yang pernah ada di perancis sana, sudah tidak akan ada apa-apanya lagi buat sejarah dunia.
.
Mata saya tegang dan sembab oleh air mata, karena dimulai dari pertanyaan inilah, kita kembali kepada jaman dimana Muhammad, Jesus, Buddha ; pemimpin-pemimpin terbesar yang dimiliki dunia, yang tidak memiiki istana, apalagi istana presiden. Dengan kesederhanaannya yang luar biasa itu, beliau-beliau hidup berdampingan dengan rakyatnya. Dan saya melihat karakter beliau-beliau ada dalam sosok seorang Ketua RT di jaman se-modern ini. Satu-satunya pemimpin yang langsung dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
.
tidak banyak bicara, langsung saja. saya berikan kata kunci dari pertanyaan itu adalah ; ketua RT sebagai pemimpin tertinggi di wilayah Republik Indonesia.
Dan pertanyaan sederhana itu adalah :
apakah fungsi RT dan RW yang menyebar diseluruh penjuru negeri ini?
.
bila bukan sebagai wadah untuk menegakkan musyawarah mencapai mufakat sebagai sendi demokrasi di negeri ini, apalagi? Apa memang hanya sebatas pendataan KTP dan pembagian BLT saja? Apakah tidak ada lagi musyawarah gerilya, baik itu sebelum atau sesudah Indonesia merdeka? Apakah pada saat tertentu saja, seperti RT warga porong yang melakukan rapat darurat tepat ketika bencana terjadi? Apakah BBM naik itu bukanlah bencana nyata bagi kehidupan mereka juga? Apakah Ratusan juta KK yang bernaung di bawah Puluhan juta RT, tidak juga menyelenggarakan rapat darurat untuk bencana yang jelas-jelas nyata itu? bagaimana dengan rakyat miskin yang jumlahnya tidak sedikit itu, berjubel dalam kampung-kampung kecil, yang tentu saja memiliki ketua RT? Apakah mereka para ketua RT ini sudah diajak bicara, berpikir, dan bekerja bersama oleh pemerintah? Apakah pemerintah gengsi mengajak seorang Ketua RT yang hanya berpendidikan lulus SMA, ini untuk berdialog mencari solusi bersama? Sungguh apakah sesama manusia itu tidak sama derajatnya di mata Tuhan?
.
Ini hanyalah pendapat seorang penulis, yang trauma dengan sebaris tulisan di sebuah koran nasional. Penulis berharap, keputusan kebijakan Negara tetap berada di tangan RT dan RW sebagai lingkup terkecil Negara. Pemerintah hanya menjalankan dan memberikan masukan-masukan pemerintahan berdasarkan keputusan tersebut. Itulah demokrasi. Intinya rakyat ikut berpikir, belajar dan bekerja bersama.
.
Untuk merencanakan masa depan negeri ini. Bukan kebijakan hasil perenungan segelintir orang, yang berkuasa hanya untuk beberapa tahun saja. Tentu saja pemikirannya masih terlalu dini dan kekanak-kanakan. Sungguh sangat menakutkan.
.
inspired by me




















Naiik peRaHu
kekoTa beLaWaN,
bawA uDang
saMa iKaN,
Hari menunggu kiTa
LebarN,
saLah & d0sa
moh0n dimaafkaN..
seLamat hari raYa
iduL fiTrì 1430 H
moHon maaf Lahir
& baTin..!
ya sama-sama. Minal aidzin juga pak.. mohon maaf lahir batin. Barokalloh..