Jenis buku : Novel roman spiritual
Judul Asli : Na margem do Rio piedra eu sentei e chorei
Pengarang : Paulo Coelho
Alih bahasa : Rosi L Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Dari judulnya dan covernya versi Indonesia. Orang pasti bisa menebak ini novel untuk perempuan. Saya sarankan, untuk anda para adam, bila ingin memberikan kado/hadiah, sebaiknya anda membeli buku ini untuk kekasih anda. Novel ini, menceritakan perjuangan seorang wanita tegar yang berjuang untuk tetap setia kepada kekasihnya, hingga ia sadar bahwa kekasih yang ia dampingi memiliki tanggung jawab yang besar. Mungkin sosok wanita yang bernama pilar ini, bisa disandingkan dengan siita—kekasih rama, dalam epik ramayana.
Entah kenapa saya membaca novel ini. pada saat itu, tengah malam sedang menjelang. Seperti biasa saya tidak bisa tidur. Udara dingin menambah Kerinduan saya akan sosok seseorang yang saya cintai, lembut mengusik ketenangan. tangan saya mulai berjumpalitan membuka dan menutup halaman buku demi buku yang saya temui. rasanya untuk kondisi hati saya saat itu, sebaiknya saya membaca buku roman spiritual. Dan tepat saat itulah angan saya jelas membisikkan nama Paulo Coelho, pengarang novel The Alchemist. Saya pernah membaca novel nya dan dibuat terkesima olehnya. Dan otomatis saya menghampiri rak buku, dan mencari nama Paulo Coelho. Ketemu deh novel ini.
Wah feminim banget covernya. Pikir saya. Tidak juga peduli dengan itu, saya balik dan baca cover belakangnya…..
“cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya”.
Begitulah yang semula dipercaya pilar. Tapi apa yang terjadi ketika ia bertemu dengan kekasihnya setelah sebelas tahun berpisah? Waktu menjadikan pilar wanita yang tegar dan mandiri, sedang cinta pertamanya menjelma menjadi pemimpin yang tampan dan karismatik. Pilar telah belajar mengendalikan perasaan-perasaannya dengan sangat baik, sementara kekasihnya memilih religi sebagai pelarian bagi konflik-konflik batinnya. Kini mereka bertemu kembali dan memutuskan melakukan perjalanan bersama-sama. Perjalanan itu tidak mudah, sebab dipenuhi sikap menyalahkan dan penolakan yang muncul kembali setelahlebih dari sepuluh tahun terkubur dalam-dalam di hati mereka. Dan akhirnya, di tepi sungai Piedra, cinta mereka sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan kehidupan”.
Begitulah yang tertulis di sampul cover belakangnya. Setelah itu saya baca bukunya dari halaman pertama sampai akhir. Hingga pagi menjelang. Paulo menggambarkan kisah cinta pertama, dari dua orang remaja yang lama berpisah. Setelah sebelas tahun, akhirnya mereka bertemu kembali dengan konflik cinta—- seperti biasa rumit dan mengasyikkan. Saya pikir mengasyikkan karena hampir mirip dengan kisah-kisah cinta saya sendiri. Dalam petualangan mereka Paulo membawa kita menjelajahi hutan, gunung, dan desa-desa kecil di eropa. Tepatnya spanyol. Dimana agama katolik bersemi.
Selain konflik cinta yang rumit, paulo juga menambahkan beberapa penggal sejarah. Ketika eropa diliputi ketegangan akan ajaran-ajaran katolik baru, yang dibawa oleh santo-santo beraliran kharismatis. Dan salah satu santo itu adalah kekasih pilar sendiri. Kedalaman tentang konsep Tuhan tidak hanya bapa, melainkan juga bunda, tentu saja membuat para petinggi gereja katolik puritan di vatikan kelimpungan. Tragedi pembunuhan, pembakaran kerap dijadikan salah satu cara untuk menambal pengaruh ajaran baru yang dianggap sesat itu. Tentu saja perbuatan keji dan kejam yang dipelopori oleh kaum katolik puritan itu—- semakin menambah besarnya dukungan masyarakat katolik terhadap santo-santo dari aliran kharismatis. Terjadilah kebingungan dan ketegangan di eropa yang kian menekan para petinggi vatikan untuk diam-diam melakukan pertemuan, ditengah-tengah ketegangan tersebut. Dan dibuatlah surat ineffabilis deus oleh mereka untuk mengesahkan dukungan terhadap dogma yang dibawa oleh para santo dari aliran kharismatis. Dan berhentilah tindakan teror yang dilakukan oleh mereka kaum katolik puritan.
Pisau kritis yang disayatkan oleh paulo dalam novelnya ini, berhenti diakhir cerita. Dengan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab. Salah satunya, apakah pilar dan kekasihnya padre—yang seorang santo itu akhirnya menikah? Tentu saja bila pilar dan kekasihnya menikah, paulo akan dikecam namanya oleh para santo yang seharusnya tidak menikah itu. Kalau saya sih, sebenarnya ingin sekali melihat mereka menikah di akhir cerita….
















