joe terduduk diam, matanya menajam kearah lapang, sesekali melirik ke atas berharap hujan tak datang. Ia baru saja pulang dari kampusnya, dua puluh menit yang lalu diselesaikannya soal-soal UAS(Ujian Akhir Semester) yang berakhir dengan senyum mengembang, hatinya berbungah-bungah. Karena pada saat detik dimana kertas jawaban ia serahkan, pada saat itu juga libur telah datang. Lagu tasya “libur telah tiba”-pun ia senandungkan selama perjalanan pulang dengan riangnya.Saat pulang kuliah, saat itu pulalah kebiasaan joe yang unik pun rutin terjadi, dalam perjalanan pulang dari kampus, ia tak pernah pulang langsung menuju rumahnya. Joe selalu sempatkan waktu untuk mampir di sebuah warung kecil di sebelah tanah lapang yang luas. Tanah lapang yang tak jauh dari rumahnya, dimana ia terkenang masa-masa kecilnya, masa-masa ketika ia masihlah duduk di SD. Kisah kasih di sekolah ,pikirnya.
Seketika haru menyelimuti hati joe, bak rasa syukur oleh kenangan masa kecil yang tiba-tiba dirindukannya. Di pandanginya tanah lapang dengan mata berkaca, “selama sepuluh tahun tak ada yang berubah di sini”, gumamnya, bahkan sang penjual warung di tempatnya duduk sekarangpun, masih juga tetaplah sama.
Keharuannya terus berlanjut dalam lamunan, sedang di depannya seseorang sedang memperhatikannya. Karena tak tahan melihat joe melamun, orang itu berteriak,
“hei, hayo…..”, suara cempreng dengan nada rock’n roll yang tinggi mengagetkannya
“ah mbah tho, ngagetin saja, saya kirain vokalisnya rolling stone!”
Ternyata suara itu adalah suara nenek tua si penjual warung, yang selama 10 tahun ini biasa dipanggil joe dengan sebutan mbah. Batin joe ‘suara mbah masihlah tetap sama, cuman agak sedikit nge-bass kalee saking makin deketnya sama tanah’,
“anak dari tadi ngelamun saja kayak orang stress mau bunuh diri, mbah khan takut, nanti kalo keterusan gimana, khan mbah yang repot. Udah tidak usah banyak dipikir nanti bisa bikin gila, ya seperti itu perempuan,”, lanjut mbah mencoba menghiburnya dengan menebak seenaknya penyebab keharuan joe..
“hahaha…mbah sok tahu tempe, saya ndak sedang memikirkan perempuan kok!”
“trus apa dong?, kok sampai jutek gitu ” Tanya mbah keheranan dengan nada sok gaul keimutan.
“ah nggak usah mbah, saya malu”,jawab joe malu-malu, dengan pipi merah merona
“ya sudah kalo gak mau cerita, ya ndak papa. Ini kopi susunya, dasar anak muda, gitu aja pakek rahasia-rahasiaan, kalo bukan broken heart apalagi coba?”
“ye…mau tahu aja”.
“kualat kamu kalo gak mau cerita sama mbah, kena kutukan nanti”
Sembari merahasiakan apa yang ada dalam keharuan pikirannya kepada mbah, joe menerima kopi susu dari mbah, dan langsung diseruputnya. Tenggorokannya mereguk terasa hangat sampai ke dada. sambil kembali joe terduduk diam, matanya menajam kearah lapang, sesekali melirik ke atas berharap hujan tak datang.
“biarin, RAHASIA ya RAHASIA, wekkk” balas joe menimpali, dengan nada mengejek mbah
Hampir tengahan hari, tak nampak juga sinar matahari yang bersinar seterik matahari, ‘kota Surabaya yang tidak normal. dimanakah kalian udara panas dan polusi udara yang kental? aku rindu kalian’, gumam joe, seakan-akan rindu pada kekasih yang lama meninggalkannya. Kerinduan joe tak berbalas.
Yang ada hanyalah awan mendung menghitam mengepung langit, dan udara dingin dimana-mana, padahal mereka ingin ikut juga bersimpati pada joe yang haru. joe yang merahasiakan sebab keharuannya.
Semilir angin selatan bertiup kencang membentur atap warung berlapiskan seng yang dindingnya dari kayu. Angin itu turun berdesis ke telinga joe, ingin juga bersimpati kepada joe yang haru. Joe yang merahasiakan sebab keharuannya.
Tak jauh didekat warung ada juga pohon yang batangnya meliuk-liuk menari, dipuncaknya burung-burung gereja bertengger. Mereka merasakan apa yang joe rasakan, mereka nyanyikan lagu-lagu haru untuk joe yang haru, joe yang masihlah merahasiakan sebab keharuannya.
Sedangkan yang paling tidak diharap-harapkan oleh joe, jauh di atas langit. Hujan sebagai mahluk Tuhan, melihat juga keharuannya. Hujan ingin bergabung dengan awan mendung, angin selatan, pohon, dan burung-burung gereja, memberi simpati pada hati joe yang haru. Joe yang masihlah tetap merahasiakan sebab keharuannya.
Mereka semua; mbah, hujan, awan mendung, angin selatan, pohon dan burung-burung gereja ingin mewujudkan cintanya kepada sang kholik di bumi, yaitu seorang anak manusia bernama joe. Joe yang sedang haru. Joe yang masihlah tetap ngotot merahasiakan sebab keharuannya.
joe tak menyangka bila beberapa detik lagi ke-ngototan-nya akan sirna. Ditelan udara dingin yang membuatnya berdiri, matanya mengantuk menatap kearah mbah, sesekali meringkuh kedinginan, dikeluarkannya uang dua ribuan dari saku celana.
“mbah sudah, berapa kopi susunya?”,
Tepat saat itulah. Atap seng berbunyi gemericik, spontan mbah menjawab,
“lho mau hujan kok pulang? Sini dulu saja nunggu hujannya reda”,
joe tampak kesal, dia umpat hujan yang tidak seberapa deras itu
“tidak, jangan hujan lagi, dasar hujan sialan! Mau tahu aja rahasia orang”,
Bodohnya joe, seperti halnya manusia bisa mendengar dan punya perasaan, hujanpun marah karena niat baiknya dibalas dengan umpatan. Dalam kemarahannya, hujan semakin deras dan bertambah deras. Hingga dua jam sudah, hujan tak reda. joe masih terduduk diam, matanya menajam ke arah lapang, berhenti melirik ke atas, berharap esok hujan tak pernah datang.
“nasib… nasib, hujan lagi, hujan lagi, lengkaplah sudah penderitaan saya mbah. Rasanya saya harus mengungkapkan rahasia saya kepada mbah. Saya gak mau kutukan mbah jadi kenyatan. Sebenarnya saya tadi melamun karena capek dan sedih. Sudah hari ke dua puluh sembilan kurang satu hari ini, jadinya sebulan deh, saya NGURAS rumah saya yang kebanjiran,” celotehnya pada mbah dengan nada memelas.
“HAHAHA… oalah iku tha, mbah kirain masalah cewek, gitu aja pakek dirahasiain segala, sing sabar ae… kamu sih buang sampah sembarangan, juga jangan lupa berdoa sama Tuhan, agar pemerintah pemkot sadar akan perbuatannya. Percuma selama ini kita jaga kebersihan, larinya air kalo gak ke rumah kita kemana lagi, lha wong daerah resapan airnya dibangunin mal-mal sama apa itu namanya? Oya rel estet. Juga kamu jangan pernah menyalahkan hujan nak, itu rezeki dari Tuhan, disyukuri… Bla…bla..bla..” mbah menasehati joe se-jam. joe pun mengangguk mengiyakan, terpaksa mendengarkan suara cempreng omelan mbah yang tak bisa diganggu gugat. Tanpa sengaja mulutnya menguap, matanya mengantuk kecapekan, sudah sebulan joe menguras rumah. “Top skor selama sepuluh tahun tak ada juga yang berubah disini”, batinnya. Banjir sialan…..(*)
















