HAI-KU sapa PASURUAN Maret 2, 2008
Tepat menjelang liburan. Kurang lebih sekitar jam 5 shubuh setelah sholat. Saya bersama dengan salah seorang kawan, karena bosan dengan hiruk pikuk di kota surabaya, akhirnya memutuskan untuk menempuh perjalanan ke sebuah kota kecil di utara pulau jawa bagian timur, pasuruan. Disamping keinginan me-refresh-kan diri, kami juga hendak meng-iya-kan undangan seorang kawan yang sangat ingin memperkenalkan kehidupan tradisi di kotanya itu.
.

Perjalanan menuju kota pasuruan, dari surabaya dengan mengendarai motor memakan waktu kurang lebih sekitar 2 jam, kami melewati jalan rute sidoarjo, dan jelas saja kami akan melewati jalan raya porong. Disana lumpur masih juga menyembur dan bau gas nya sangat menyengat. Sebaiknya anda menggunakan masker/penutup hidung lainnya dan kaca mata, agar debu-debu dari jalanan di sekitar lokasi tidak masuk kedalam tenggorokan dan menimbulkan asma/sesak napas dan kelilipan di sekitar mata anda ketika berkendara motor.
.
Setelah melewati jalur porong, akan ada sebuah jembatan layang yang dibawahnya mengalir anak sungai brantas, yaitu sungai porong. Warnanya coklat pekat, agak tidak indah memang bila dibandingkan dengan sungai-sungai di eropa. Itu mungkin dikarenakan ada sebagian lumpur dari porong yang dibuang kesana. Tapi tidak usah berkecil hati sungai disini memang coklat, karena banyak vitaminnya. Bahkan tersimpan kekayaan alam di dalamnya. Minyak dan gas bumi yang berlimpah.
GELISAH HUJAN Maret 2, 2008
joe terduduk diam, matanya menajam kearah lapang, sesekali melirik ke atas berharap hujan tak datang. Ia baru saja pulang dari kampusnya, dua puluh menit yang lalu diselesaikannya soal-soal UAS(Ujian Akhir Semester) yang berakhir dengan senyum mengembang, hatinya berbungah-bungah. Karena pada saat detik dimana kertas jawaban ia serahkan, pada saat itu juga libur telah datang. Lagu tasya “libur telah tiba”-pun ia senandungkan selama perjalanan pulang dengan riangnya.Saat pulang kuliah, saat itu pulalah kebiasaan joe yang unik pun rutin terjadi, dalam perjalanan pulang dari kampus, ia tak pernah pulang langsung menuju rumahnya. Joe selalu sempatkan waktu untuk mampir di sebuah warung kecil di sebelah tanah lapang yang luas. Tanah lapang yang tak jauh dari rumahnya, dimana ia terkenang masa-masa kecilnya, masa-masa ketika ia masihlah duduk di SD. Kisah kasih di sekolah ,pikirnya.
Seketika haru menyelimuti hati joe, bak rasa syukur oleh kenangan masa kecil yang tiba-tiba dirindukannya. Di pandanginya tanah lapang dengan mata berkaca, “selama sepuluh tahun tak ada yang berubah di sini”, gumamnya, bahkan sang penjual warung di tempatnya duduk sekarangpun, masih juga tetaplah sama. lanjutkan membaca
Surat Maret 2, 2008

Surat dari Imam Ali
Untuk Para Penguasa
Jadikanlah kekuasaanmu yang sangat pada segala sesuatu yang paling dekat dengan kebenaran, paling luas dalam keadilan, dan paling meliputi kepuasan rakyat banyak. Sebab, kemarahan rakyat banyak mampu mengalahkan kepuasan kaum elit. Adapun kemarahan kaum elit dapat dibaikan dengan adanya kepuasan rakyat banyak. lanjutkan membaca
















